PARA PELAKU
1. PAKDE KEMPUL
2. BUDE KIRANTI
3. KEMPRUT
4. WIRID
5. GENTING
6. JANTHIL
7. SOWER
1. PAKDE KEMPUL
2. BUDE KIRANTI
3. KEMPRUT
4. WIRID
5. GENTING
6. JANTHIL
7. SOWER
Teras depan rumah singgah Pakde Kempul, siang hari
Genting, Sower, Janthil, Wirid dan Kemprut berbaris di depan pintu, menyambut kedatangan Bude Kiranti. Tampak Bude Kiranti bersama Pakde Kempul, tak kuasa menahan tawa melihat gerakan unik dan nyanyian anak-anak itu.
Genting, Sower, Janthil, Wirid dan Kemprut berbaris di depan pintu, menyambut kedatangan Bude Kiranti. Tampak Bude Kiranti bersama Pakde Kempul, tak kuasa menahan tawa melihat gerakan unik dan nyanyian anak-anak itu.
Lagu Selamat Datang :
Selamat datang Bude Kir..Bude Kir..Bude Kiranti
Selamat datang di gubug reot tapi bikin nyaman hati
Selamat datang....selamat datang...selamat datang...
BUDE KIRANTI : Ternyata kalian jago menyanyi dan menari juga. Bude salut. Ini
pasti hasil karya Mas Kempul.
ANAK-ANAK : (mencibir) Ihh, bukan Bude. Ini murni hasil karya kita.
GENTING : Tapi memang sih, hasil didikan Pakde...
ANAK-ANAK : (malu-malu) Iya...he...he...
WIRID : Insya Allah memang iya, Bude.
PAKDE KEMPUL : Nah, anak-anak. Bude Kiranti telah hadir diantara kita. Hidangan
istimewanya tadi mana? Tolong dikeluarkan sekarang. Pakde juga sudah lapar.
BUDE KIRANTI : Kamu ternyata tidak berubah. Kalau masalah makanan, pasti nomor
satu. Ingat tidak, waktu kamu mentraktir teman-teman dulu?
PAKDE KEMPUL : Ah, sudahlah. Tak bagus diungkit-ungkit. Kesannya jadi pamrih.
BUDE KIRANTI : Bukan masalah pamrihnya. Cara kamu mentraktir teman-teman itu
lho, yang sampai sekarang masih terkenang di benakku. Kau selalu urut abjad
nama julukan unik teman-teman pada saat membagi makanan. Ingat tidak kamu,
julukanku dulu apa?
PAKDE KEMPUL : Pastilah aku masih ingat. Wondor Wongkang kan? Dan nasibmu
selalu yang paling belakang. Trus, karena tidak tahan menunggu lama, kau selalu
mondar-mandir ke toilet. Iya kan? (tertawa)
BUDE KIRANTI : (tertawa) Ssstt!! Tidak enak, kamu ceritakan alasannya. Tidak
sopan di depan anak-anak.
KEMPRUT : Tenang saja Bude. Kita sudah terbiasa mendengar cerita-cerita yang
paling parah sekalipun, kok.
JANTHIL : Iya Bude. Nanti Bude juga jangan kaget mendengar kisah-kisah kita.
Pasti lebih kacau lagi.
PAKDE KEMPUL : Baiklah anak-anak, sebagai pembuka tak ada salahnya Bude Kiranti
sedikit mendongeng pada kalian tentang apa dan bagaimana yang akan beliau
lakukan di gubug reot kita ini. Silahkan, Ran.
BUDE KIRANTI : Ok. Pasti Mas Kempul sudah sedikit cuap-cuap pada kalian,
tentang tujuan Bude datang kesini. Sebenarnya sederhana saja. Dulu semasa di
SMA, kita berdua bersahabat, cukup dekat. Dan tanpa sengaja, ternyata kita
berdua sama-sama punya cita-cita ingin bergelut dengan para remaja yang
bermasalah, baik dengan keluarganya maupun dengan lingkungan pergaulannya.
Karena kita merasa kasihan jika melihat remaja-remaja berkualitas, harus putus
harapan di tengah jalan karena faktor x yang sebenarnya masih bisa dicari
solusinya. Mungkin karena masalah kematangan pola pikir yang masih jadi
kendala. Tidak adanya sosok yang tepat yang mau mengerti kemauan mereka.
Tekanan dan tuntutan berlebihan para orang tua dalam hal masa depan anaknyapun
bisa membuat para remaja itu jadi frustasi. Masa remaja adalah masa pertumbuhan
yang menurut Bude cukup unik. Proses pertumbuhan dan perubahan pola pikir itu
ada pada masa remaja. Makanya hati-hati dengan usia remaja. Kalau benteng kita
tidak kuat, maka kita akan mudah rapuh. Kalau benteng kita kuat, kita tinggal
memilih. Mengikuti jalur yang ditentukan atau membuat pilihan sendiri. Pada
saat Mas Kempul bercerita perihal keseharian dan kepribadian kalian semua,
terus terang aku cukup tertarik dan tertantang untuk segera bertemu dengan
kalian.
SOWER : (memotong) Maaf Bude. Dari tadi perut saya sudah berkeroncong ria
terus. Boleh tidak, jika Bude...
PAKDE KEMPUL : Sower, sstt!! (sedikit menggugam) Kamu itu mbok dijaga bibirnya
!
SOWER : Maaf, Pakde. Maksud saya, boleh tidak jika Bude Kiranti mencicipi rujak
toletnya barang sepotong? Soalnya, dari tadi perutku sudah gonjang-ganjing.
JANTHIL : Iya, Pakde. Kepalaku juga terasa pening mendengar apa yang
diungkapkan Bude Kiranti. Terlalu berat.
WIRID : Subhanallah, maklum Bude. Kita semua memang anti yang panjang-panjang.
Jaman sekarang semua serba praktis dan cepat.
KEMPRUT : Seperti halnya angin cuekku. Tanpa kompromi, tiba-tiba wuusss..
GENTING : Kemprut ! Yang sopan sedikit dong.
PAKDE KEMPUL : Aduh, jadi tidak enak aku. Maafkan perilaku anak-anak ini ya,
Ran. Memang ini salah satu kelemahan mereka yang masih susah aku taklukkan.
GENTING : Kalau tidak enak, mendingan makan nasi kucing saja Pakde.
PAKDE KEMPUL : Huss! Genting. Sekarang ini kita forumnya sedikit agak serius.
Ada kalanya bercanda, tapi kalian juga harus menghormati yang serius walau
kalian tidak suka. Sepertinya kalian memang masih harus banyak belajar. Maka
itu, tepat kiranya jika Pakde datangkan Bude Kiranti.
BUDE KIRANTI : Tidak apa-apa kok, Mas. Saya sangat paham psikologis anak-anak
tipe mereka. Tenang saja. Resiko pekerjaan kita, harus jauh-jauh dari kamus
tersinggung atau sensitif. Semua harus disikapi dengan ringan dan jiwa besar.
Tidak sadarkah dirimu, bagaimana masa remaja kita dulu? Aku rindu dengan masa
remajaku sendiri. Kehadiran anak-anak ini semoga bisa jadi nostalgia masa
remaja kita dulu.
WIRID : Ahlan wa sahlan... kok jadi seperti nonton sinetron. Judul sinetronnya
Nostalgia Bude Kiranti dan Pakde Kempul.
Semua tertawa terbahak-bahak sambil sesekali diam-diam si Sower mencomot
potongan buah rujak tolet di hadapannya.
GENTING : Pakde, Sower mengambil kesempatan dalam keriuhan nih...
SOWER : Enak saja. Aku kan cuma sekedar coba-coba. Siapa tahu rasanya berubah.
KEMPRUT : Dasar, alasan. Bilang saja kalau dari tadi sudah tidak kuat menahan
godaan.
PAKDE KEMPUL : Ya sudah, sudah. Sekarang, sedikit lagi ya mohon sabar. Ran,
langsung saja kau beritahu tentang CBSA itu.
BUDE KIRANTI : Siip. Jadi begini anak-anak, disini nanti Bude akan menemani
kalian dalam proses CBSA. Yaitu proses Cara Belajar Siswa Aktif dengan metode
PAKEM. Yaitu pembelajaran kreatif, aktif dan menyenangkan. Kalian akan
mendapatkan pelajaran seperti halnya yang didapatkan teman-teman seusia kalian
di sekolah. Istilah keren masa kini adalah Home Schooling.
WIRID : Masya Allah? Home Schooling? (diucapkan sesuai dengan bunyi vokal
aslinya) Dengar-dengar, biayanya kan mahal itu Bude.
GENTING : Iya. Itu kan yang pernah muncul juga di televisi. Kalau tidak salah
waktu itu ada Kak Seto sama Kak Hughes.
BUDE KIRANTI : Ternyata, kalian cukup brilliant juga ya.
SOWER : Bri..li..an? Maksud ibu ber..li..an? Lidah ibu keblibet ya, bilang
berlian jadi brilian? Kalau kita berlian, berarti kita bisa dijual mahal dong.
KEMPRUT : Iya. Nanti masuk surat kabar. Judulnya Kasus Jual Beli Anak Semakin
Merajalela.
BUDE KIRANTI : (senyum, geleng-geleng kepala) Brilliant itu salah satu kata
dalam bahasa inggris. Yang artinya cerdas atau cemerlang.
GENTING : Cerdas? Jelas, pasti itu Bude. Kalau tidak, mana mungkin Pakde Kempul
mau terima kita. Iya kan Pakde?
JANTHIL : Dasar egois. Promosi diri terus. Mendingan kamu buka warung jamu
saja. Atau buka lapak obat tradisional di pinggir jalan yang pakai toak. Pasti
laku keras.
PAKDE KEMPUL : Perhatian, perhatian..!! Sepertinya rujak tolet dan rujak
cingurnya sudah mulai teriak-teriak ingin segera dimangsa.
Anak-anak langsung berebut mencomot rujak. Tapi dicegah oleh Pakde Kempul.
PAKDE KEMPUL : Eits, tunggu dulu. Lupa ya dengan tradisi makan di rumah ini?
ANAK-ANAK : Oh, iya ya. (menyanyi) Mangan ora mangan, sing penting ngumpul.
Penak opo ora penak, sing penting wareg. (membaca doa sebelum makan) Ji...
lu... nem... nang...ning, ning... nang... ning... gong... nyam.. nyam... Biyuh,
uenaak tenaaann...
WIRID : Alhamdu...
ANAK-ANAK : lillah...
PAKDE KEMPUL : Ayo, Ran. Langsung tancap. Jangan bengong.
BUDE KIRANTI : (senyum bahagia) Ada ada saja anak-anakmu ini.
PAKDE KEMPUL : Ini masih babak permulaan. Nanti kamu akan menemukan
ritual-ritual kita yang lain. Ayo, sekarang kamu tidak perlu menunggu giliran
traktiran dariku.
BUDE KIRANTI : (genit) Ih, Mas Kempul. Jadi kangen aku dengan suasana saat itu.
PAKDE KEMPUL : (berpantun) Buru-buru makan rujak, karena perut sudah teriak.
Rujak tolet, rujak cingur. Lidah melet, pedas sesak bagai makan sambal
ubur-ubur.
BUDE KIRANTI : (tertawa) Bikin pantun kok maksa. Norak ah, kamu.
PAKDE KEMPUL : Pelan-pelan saja anak-anak. Tidak usah berebut.
BUDE KIRANTI : Eh, itu si Kemprut. Hati-hati. Awas, jangan miring-miring
piringmu. Tuh, kan. Yach..taplak mejanya ketetesan bumbu rujak.
ANAK-ANAK : (serempak)Hayo, Kemprut, hayo Kemprut. Cuci, cuci. Cuci, cuci.
Cucian deh kamu, wek...wek...wek...
Suasana ramah tamah berlangsung cair.
LAMPU BERUBAH
Sumber: Naskah drama “Taplak
Meja” karya Herlina Syarifudin. http://mraudahjambak.blogspot.com/2008/01/m-raudah-jambak.html
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar