Teguh Arya Pamungkas
Sore ini, langit kota Rhododendron sedang mendung. Hujan sedang turun deras.
Seluruh kota dan jalanan dipenuhi riak-riak air jatuh. Pada masa-masa seperti
ini—hujan sedang turun—, orang-orang Rhodon lebih suka di dalam rumah melilit
tubuh dengan selimut tebal bergambar panda, ditemani secangkir kopi hangat sambil
menonton tayangan drama tempo dulu dari benua Asia nun jauh. Kadang menemani anak-anak
mereka tidur siang—meski sedang sore—setelah hujan-hujanan. Para remaja
tanggung yang sedang senang-senangnya menikmati kegalauan memilih duduk di
teras rumah. Mendengar suara sayup-sayup lagu sendu berjudul “Aku Ingat Hujan Sedang Turun Waktu Itu.”
Sebuah jalan kecil bernama “Alamanda”
membagi sebuah komplek sekolah dengan perumahan warga. Dari sebuah rumah di
tepi jalan, seorang remaja laki-laki sedang memandang keluar jendela. Dari
kamarnya, dia mengamati lamat-lamat halaman rumahnya yang terguyur hujan.
Sebuah pohon mangga tumbuh disana. Titik-titik air terlihat menetes dari
daun-daun pohon ke tanah. Begitu perlahan.
Seseorang tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya.
“Masuklah!” kata Guf menoleh. Ibunya membawa sekeranjang pakaian
kering.
“Pakaianmu,” kata ibunya meletakkan sekeranjang pakaian di muka pintu. “Ibu
sudah bicara dengan ayahmu. Katanya dia setuju mengantarmu kesana setelah hujan
reda, dan oh, ya, sebaiknya kau bersiap-siap. Kau perlu berbenah di kota barumu
nanti,” kata ibu Guf dengan senyum yang dipaksakan.
“Hmm..., ya,” ujar Guf. “Ibu akan ikut?” dia melanjutkan.
“Ibu rasa tidak.”
“Bagaimana yang lainnya?—Mei, Ron, Ema—mereka ikut?”
“Tidak. Mereka tidak ikut.” Ibu Guf melihat sekeliling ruangan.
“Ibu harus membuatkan ayahmu kopi,” katanya pergi dan menutup pintu.
Guf mendengar suara terisak di balik pintunya.
Guf lantas kembali memandang keluar jendela. Ada selembar kertas lusuh di
tangannya—sebuah surat. Tadi saat gerimis baru turun ia membacanya dua kali. Sekarang
ia membaca sebaris kalimat “Selamat Anda
dinyatakan diterima di—” lalu mengelap tempias air hujan di jendela
kamarnya sebelum selesai membaca kalimat tersebut. Lalu ia merebahkan
diri di ranjangnya. Kepalanya berada tepat di bawah jendela, sehingga dia bisa
mendengar keaadaan di luar dengan jelas. ”Hanya Pak Tua Jenskin dan anak-anaknya,”
Guf membatin. Ia mencoba memejamkan mata sambil mendengar hujan. Beberapa kali
ia mendengar suara truk yang melintas. Klaksonnya berbunyi dan anak-anak
tertawa geli karena hampir tertabrak.
"........na na na na memudar dengan pasti. Biarkan semuaaaa
seperti.......
..........Lupakan semua tinggaaaalkan iniiiii. Ku 'kan tenaaaaang dan kau
'kan pergiiiiii......" Guf mencoba bersenandung.
Tiba-tiba mendengar suara sepeda yang dikayuh.
“Ini Ai ?”.
Ia bangun dan memandang keluar. Seorang gadis sedang bersepeda lewat depan
rumahnya. Menggenggam sebuah payung kecil bergambar doraemon. Guf mengusap kaca
jendelanya yang berembun saat gadis tersebut jauh dalam pandangan. Tersamar
hujan.
“Masih suka doraemon,” Guf membatin. Tersenyum. “Apa yang dilakukannya
hujan-hujan begini?”
***
Sudah sekitar dua jam berlalu sejak hujan turun sore ini. Guf untuk yang
kesekian kalinya mengubah posisi, bermain-main dengan kertas lusuhnya—sebuah
surat. Sekarang dia mengubah kertas
lusuh tersebut menjadi gumpalan mirip bola. Melempar-lemparnya ke udara dan
memasukkannya ke dalam keranjang pakaian. Beberapa kali mendengar langkah ibu
dan adik-adiknya.
“..........ber-ja-lanlah. Waalau
haabis terang. Am-bil ca-ha-ya cin-ta-ku-terangi jalanmu...................kau
tetaaaap. Kau tetaaaaap ben-deraaaaaaaang......” Guf mencoba bersenandung
lagi.
Diluar, langit kota Rhododendron masih mendung. Tapi hujan sudah mulai
reda. Sekawanan merpati sedang terbang di langit keabuan. Guf sedang menghadap
jendela. Mengamati halaman rumahnya yang tergenang. Pak Tua Jenskin lewat dan
menyapa ibu Guf yang sedang menyapu halaman. Jalanan juga masih basah.
Titik-titik air masih menetes dari daun-daun pohon ke tanah.
Seseorang membuka pintu. “Sebaiknya kita berangkat”, kata ayah Guf.
***
Mataram, Jum’at 29 Maret 2013, disunting di Praya, Sabtu 12 Juli 2014
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar