Awal semester kedua, murid-murid sekolah masih begitu malas
melihat deretan rumus teori kinetik gas di buku catatan fisika mereka. Tapi
beberapa murid suka sekali tersenyum di sepanjang jam pelajaran. Beberapa
karena mengira tersenyum bisa menghindarkan mereka dari dipanggil ke depan
untuk mengerjakan soal, ada yang tersenyum karena saat jam istirahat tadi wanita
dambaannya tersenyum padanya, ada yang tersenyum karena di musim libur lalu
sudah membaca buku bagus berjudul “ Senyum
Itu Ibadah” , dan ada pula yang entah bagaimana tersenyum karena mengalami
gangguan syaraf di wajah sehingga tak dapat menunjukkan ekspresi lain. Tolong
lupakan yang terakhir.
Beberapa dari “mereka yang suka sekali tersenyum” tersebut, hari
itu, sore hari, sedang duduk-duduk di sebuah bangku panjang di halaman sekolah.
Tepat di belakang mereka tumbuh sebuah pohon berkayu yang besar. Seorang murid
laki-laki menghantam pohon tersebut hingga air sisa hujan di dahan, ranting,
dan daun-daunnya jatuh membasahi murid-murid di bawahnya. Si penghantam berusaha
kabur ketika mereka yang terkena air mengejar-ngejar mengitari halaman sekolah sambil cekikikan.
Sementara murid lain sedang mengejar si penghantam pohon di
halaman, di bagian lain dari sekolah tersebut, seorang siswi Emma, sedang
berdiri di depan sebuah ruang kelas. Ia melihat teman sekelasnya, Ayni sedang duduk
sendiri di bangku depan. Sedang menulis di selembar kertas.
“Sendirian, Ay?”
Emma melihat teman sekelasnya yang
lain, satu-satunya laki-laki di kelas saat itu, juga duduk sendiri di bangku
belakang.
“Ooooh—ada—“ Emma berkata lirih.
Remaja laki-laki tersebut pun terlihat sedang menulis di
selembar kertas, seperti Ayni. Tapi pandangannya sesekali ke arah jendela.
Seolah melihat angin yang berhembus di luar.
“Isssh..., kemarin kata ibu itu—“ Ayni mengeluh, namun
terdengar bersemangat.
“Kata ibu itu? Tugas yang tadi belum selesai Ay?” Emma
bertanya.
“Ya, Ma. Harus dikumpulkan sekarang, kan?”
“Mungkin. Kutunggu di parkiran, ya? Ay?” Emma beranjak
keluar.
“Hei...! Emma—kamu—” Ayni protes.
Sekarang ada dua murid di kelas. Mengerjakan tugas.
Detik...........................................
Menit................................................
Banyak
menit.....................................................
Lebih banyak
menit..................................................................
Berlalu------ ------------ ------------- --------------
-------- ---------- ----- ----- ------
Si remaja laki-laki mengetuk-ngetuk meja sambil memandang keluar jendela.
Ada lapangan basket di luar. Disana, genangan air sisa hujan memantulkan gambar
langit. Ada beberapa yang seperti pelangi. Juga seekor kupu-kupu berputar pelan
ke semak-semak bunga merah di tepi lapangan. Seekor kupu-kupu lainnya datang.
Warnanya biru. Mereka terbang rendah, lalu hinggap di genangan air.
Detik.......................................................................
.........
......................................................................................
........
Menit.................................................................................
......
...................................................................................
................
Banyak menit.........................................................
......................
.......................................................................
................................
Lebih banyak menit.................................................................................
Berlalu------ ------------ ------------- --------------
-------- ---------- ----- ----- ------
Masih
mengerjakan tugas.
Ayni tiba-tiba beranjak dari kursinya dan pergi keluar
ruangan.
Detik...........................................
Detik...........................................
Berlalu..........................................
Ia kembali. Ia memasukkan pulpen dan beberapa buku yang
bertumpuk di mejanya ke dalam ransel. Si remaja laki-laki ikut beranjak.
“Kamu sudah?” tanya Ayni menengok sebentar si remaja laki-laki
dari kursinya.
Mengaitkan ranselnya di bahu kiri.
“Ya.”
“Itu tasmu?” Sebuah ransel hitam tergeletak di atas meja di dekat
mereka.
“Bukan.” Si remaja laki-laki mengenakan ranselnya lalu
menggabungkan kertasnya dengan kertas-kertas lain di meja.
“Biar saya yang
bawa.” Ayni membawa tumpukan kertas itu keluar.
***
Setahun kemudian
Saat itu menjelang zuhur. Jam istirahat. Si remaja laki-laki
sedang duduk di bangku depan di dalam sebuah ruang kelas bersama seorang teman
sekelasnya. Di sudut, dekat pintu. Murid-murid
lain yang pergi atau kembali dari kantin berlalu-lalang di depannya.
“Jadi, begitu?—maksudku—begitu saja?” kata seorang teman
yang duduk di samping si remaja laki-laki, Sahput.
“Begitulah,” kata si remaja laki-laki.
“Hhmm, apa istimewanya? Aku menyesal sudah bertanya.”
“Saya memang tak bilang itu istimewa. Hanya kejadian kecil.”
“Kau tahu? Ceritaku
tentang nenek-nenek jatuh dari pohon bahkan lebih menghibur.”
Si remaja laki-laki tertawa.
Ayni
tiba-tiba masuk kelas bersama beberapa murid lain. Baru kembali dari kantin.
“ Kau sadar, Sahput?” ujar si remaja laki-laki.
“Apa?”
“Dia—baiklah lupakan saja. Mari membahas doraemon.”
“Dora the explorer lebih baik. Jangan bercanda. Kau mau
bilang apa?”
“Dia manusia. Itu maksud saya.”
“Kau ini—kau mau bilang apa?”
“Dia menggunakan sepatu yang berbeda hari ini.”
“Hanya itu?”
“Anggap saja hanya itu.”
“Baiklah.” Sahput menyeringai dan mengangguk-angguk. Matanya
mencari dimana Ayni dan sepatunya berada.
“Lihat? Kalian duduk
saling berseberangan. Pas sekali.”
“Jangan begitu.”
Si remaja laki-laki memperhatikan gambar mawar merah di
dinding di depannya.
“Sungguh tahun yang dramatis.”
“Dramatis? Kau ini—kau tak mengerti
arti dramatis.”
“Memang apa artinya?”
“Kau tak pernah mengajaknya bicara.”
“Benar,” ujar si remaja laki-laki datar. Masih
memperhatikan gambar mawar.
“Tapi tentu kau tak perlu bicara, kan? Kalian punya—apa itu
namanya— ikatan batin.” Sahput
menyeringai pada si remaja laki-laki.
“Kamu bercanda.” Si remaja laki-laki beranjak dari kursi.
“Mau kemana?”
“Masjid.” Si remaja laki-laki
berjalan keluar.
***
Kejadian sebelumnya,
setelah Ayni membawa tumpukan kertas itu keluar.
Si remaja laki-laki berjalan sangat lambat menuju luar gerbang
sekolah. Terlihat teman Ayni, Emma, sedang bersama beberapa murid lain— mereka
yang terkena air yang tadi mengejar-ngejar mengitari halaman sekolah sambil cekikikan— duduk di
bawah pohon.
“Ayniiiiiiiiii.....!” Emma melambaikan tangan. Tersenyum ke
arah Ayni yang berjalan jauh di belakang si remaja laki-laki.
Ayni tersenyum dan melambaikan tangan. Menghampiri Emma dan
yang lainnya.
***
Si remaja laki-laki sedang berdiri di luar gerbang sekolah saat
seorang gadis kecil bersepeda roda tiga memakai jas hujan warna biru lewat di
depannya. Si remaja laki-laki memperhatikan si gadis kecil yang sudah sampai di
sebuah warung yang tak terlalu ramai di ujung jalan.
“Udara yang sejuk,” si remaja laki-laki membatin.
Ia melanjutkan
langkahnya menuju trotoar di tepi jalan yang lebih ramai.
Di lapangan basket, dua ekor kupu-kupu sedang terbang rendah
di atas genangan air. Seekor kupu-kupu berputar pelan menuju semak-semak bunga
merah di tepi lapangan. Hinggap di salah satu daun. Si kupu-kupu lainnya yang
biru terbang ke arah lain. Berputar mengitari tiang koridor kelas, hinggap di
kaca jendela, lalu melalui sebuah ventilasi, pelan menuju entah kemana.
***
Praya, 12 Juli 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar